|

Lintasan Kalam Ciputat Gelar Diskusi; Pelopor Semangat Santri se-Ciputat

(Ciputat, 20 Oktober 2025) Maraknya berita yang beredar di media sosial mengenai pesantren dan santri beberapa hari lalu menimbulkan gejolak amarah dari para santri yang menentang pemberitaan tidak benar oleh salah satu stasiun televisi swasta. Dalam cuplikan berita tersebut mengangkat berita betapa mirisnya perlakuan seorang guru di pesantren atau sering disebut sebagai ustadz/ustadzah kepada para santrinya. Namun diksi yang ditampilkan dalam berita tersebut kiranya menimbulkan kemarahan bagi para masyarakat yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Kata feodalisme bermunculan di mana-mana seakan menggiring berita tersebut semakin kepada hal yang negatif, beberapa orang awam yang tidak tahu bagaimana kehidupan seorang santri yang sebenarnya pun turut membenarkan bahwa kata feodalisme tersebut cocok ditempatkan pada seorang guru di pondok pesantren.

Sumber: Dokumentasi

Berkaitan dengan hangatnya pemberitaan tersebut, beberapa mahasiswa di Ciputat yang tergabung dalam ikatan keluarga alumni pondok pesantren, membuat kajian untuk merespon kejadian tersebut. Kajian ini diinisiasikan oleh alumni pondok pesantren Daar El-Qolam yang bernama Lintasan Kalam (LinK) Ciputat, dengan mengundang beberapa ikatan alumni pondok pesantren yang ada di Ciputat, diantaranya Keluarga Alumni La Tansa (KAL) Cabang Ciputat, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Ciputat, Forum Keluarga Mahasiswa Attaqwa (FKMA) Jakarta Raya, Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA), Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Jabodetabek, Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Jakarta Raya, Ikatan Alumni Pondok Pesantren Darussalam Ciamis (IKADA) JABODETABEK-BANTEN, Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah (IKPDN), Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI), dan Himpunan Keluarga Mahasiswa Alumni Tebu Ireng (HIKMAT).

Dihadiri sekitar kurang kebih 50 orang, kajian yang diselenggarakan di pelataran kampus FISIP itu mengangkat tema; “Menuju Hari Santri: Menggali Kebenaran Antara Khidmat dan Feodalisme yang Terjadi Dalam Pesantren“. Kajian ini dibuka dengan menyanyikan Hymne Oh Pondokku sebagai refleksi akan jati diri sebagai orang yang pernah mencicipi pendidikan di dunia pesantren.
Dalam wawancaranya, ketua penyelenggara sekaligus moderator dalam kajian tersebut, Naufal Dzaky, menyebutkan bahwa kegiatan ini selain menjadi ajang diskusi juga menjadi salah satu ajang silaturahmi ikatan alumni antar pondok pesantren yang berada di Ciputat dan sekitarnya.
kegiatan diskusi ini memang diinisiasikann oleh kami pengurus Lintasan Kalam atau LinK Ciputat sebagai ajang silaturahmi lintas alumni pondok pesantren dan juga sebagai ajang mengembalikan semangat intelektualitas seorang santri di ciputat” tutur Naufal.

Foto Bersama. Sumber: Dokumentasi

Pada kalimat pembuka, ketua umum Lintasan Kalam (LinK) Ciputat, Quddus Tahqiq, juga turut menyampaikan tujuan diadakannya kajian tersebut bukan hanya sebagai bentuk diskusi biasa, tapi lebih daripada itu, semua santri khususnya di Ciputat ini bisa merasakan gangguan emosional atas berita yang sedang viral di media sosial.
“Sebenarnya kami mengadakan kajian ini berangkat dari kegelisahan atas pemberitaan yang kian beredar di media sosial perihal santri, maka dengan diadakannya kajian ini, kita kembali mengingat betapa pentingnya peran pesantren dalam kehidupan kita. Hadirnya kawan-kawan alumni dari beberapa pesantren dalam kajian ini menandakan bahwa kita yang pernah nyantren memiliki kegelisahan atas berita-berita berlebihan bahkan tidak benar mengenai kehidupan seorang santri di pesantren, mungkin kita lahir dari almamater berbeda, tapi yang namanya santri itu bukan sekedar sebutan saja, dalam kata santri tersebut banyak makna-makna yang terkandung sehingga membuat kita seperti sekarang. Man ana? who Am I? siapa saya? begitu kalo kata kyai saya.” ungkap Quddus.

Kajian malam itu berlangsung dengan penuh semangat dan antusias yang tinggi, seluruh perwakilan dari ikatan alumni pondok pesantren menyampaikan argumentasinya perihal tema diskusi yang di angkat, ada yang sedikit membedah ktiab-kitab kuning dan ada juga yang menyampaikan argumentasinya dengan mengutip beberapa tokoh pembaharuan di Indonesia.

Ditutup dengan menyanyikan kembali Hymne Oh Pondokku serta foto bersama, para “Santri Ciputat” itu meneriakkan kalimat “Santri Militan, Generasi berperadaban” sebagai jargon dan tanda bahwa santri di ciputat tidak akan mati dan akan terus menumbuhkan ide-ide serta pemikiran yang berintelektual dimanapun berada juga sebagai tanda ditutupnya kajian pada malam hari itu.

Kontributor: Rifqi Naufal Ahsan
Editor: Muhammad Taufiqurrahman Z

Postingan Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *