Peran Media Massa dalam Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan di Era Digital
Attention (Perhatian)
Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang masif, media massa—baik media cetak, elektronik, maupun digital—menjadi ruang utama masyarakat dalam memperoleh informasi, termasuk informasi keagamaan. Fenomena meningkatnya konten dakwah di televisi, radio, media daring, hingga media sosial menunjukkan bahwa agama tidak lagi disampaikan secara eksklusif melalui mimbar masjid atau majelis taklim, melainkan melalui ruang publik yang luas dan dinamis.
(Dengan Pendekatan Tesis–Antitesis–Sintesis dengan Pola AIDA)
TESIS – Media Massa sebagai Sarana Efektif Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan
Interest
Media massa memiliki potensi besar sebagai sarana bimbingan dan penyuluhan keagamaan karena jangkauannya luas, komunikasinya cepat, dan kemampuannya membentuk opini publik. Menurut Effendy (2007), media massa berfungsi sebagai sarana edukasi, persuasi, dan transmisi nilai sosial, termasuk nilai-nilai religius.
Dalam konteks keagamaan, media massa dapat menjadi alat penyuluhan yang efektif untuk menanamkan nilai moral dan spiritual secara berkelanjutan, memberikan pencerahan keagamaan yang relevan dengan problem sosial kontemporer, hingga dapat membantu masyarakat dalam proses pengambilan keputusan berbasis nilai agama.
Pendekatan bimbingan keagamaan melalui media massa memungkinkan pesan disampaikan secara preventif, kuratif, dan pengembangan, sebagaimana tujuan utama penyuluhan agama menurut Amin (2013).
ANTITESIS – Tantangan dan Risiko Penyuluhan Keagamaan melalui Media Massa
(Interest – Desire)
Di sisi lain, penggunaan media massa dalam penyuluhan keagamaan tidak lepas dari berbagai persoalan. Media sering kali menempatkan agama sebagai komoditas demi rating, popularitas, atau kepentingan algoritma. Akibatnya, pesan keagamaan berpotensi akan diisederhanakan secara berlebihan (oversimplification), kehilangan kedalaman ilmiah dan spiritua, bahkan sangat rentan disalahgunakan untuk kepentingan ideologis atau ekonomi.
Hjarvard (2011) menyebut fenomena ini sebagai mediatization of religion, di mana agama tunduk pada logika media, bukan sebaliknya. Jika tidak dibimbing dengan prinsip etika dan keilmuan, penyuluhan keagamaan melalui media justru dapat menimbulkan kebingungan, konflik tafsir, bahkan polarisasi umat.
SINTESIS – Integrasi Etika Keagamaan dan Profesionalisme Media dalam Penyuluhan
(Desire – Action)
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sintesis antara nilai keagamaan dan prinsip komunikasi massa. Penyuluhan keagamaan melalui media massa harus berlandaskan pada:
- Kredibilitas sumber (da’i, konselor, atau penyuluh yang kompeten).
- Pesan yang moderat, inklusif, dan solutif.
- Pendekatan persuasif-edukatif, bukan provokatif atau dogmatis.
Penerapan Model AIDA pada penulisan ini dengan pola:
- Attention: Mengangkat isu aktual yang dekat dengan kehidupan umat.
- Interest: Mengaitkan isu tersebut dengan perspektif keagamaan yang relevan.
- Desire: Menumbuhkan kesadaran spiritual dan kebutuhan untuk berubah.
- Action: Mendorong perilaku religius yang konstruktif dan berakhlak.
Dengan pendekatan ini, media massa tidak hanya menjadi saluran dakwah, tetapi juga media bimbingan keagamaan yang membentuk kesadaran, sikap, dan perilaku religius masyarakat secara berkelanjutan. Media massa memiliki peran strategis dalam bimbingan dan penyuluhan keagamaan di era modern. Meski mengandung tantangan, integrasi antara nilai keagamaan, etika komunikasi, dan profesionalisme media mampu menjadikan media massa sebagai instrumen efektif dalam membina kehidupan religius masyarakat yang moderat, kritis, dan berakhlak.
Kontributor: Aulia Zahrah

