Penutupan Kelas Feminisme Batch 1 Mazhab Ciputat Hadirkan Musdah Mulia
Ciputat– Penutupan Kelas Feminisme Batch 1 Mazhab Ciputat digelar pada Minggu (18/01/2025) setelah melewati tiga pertemuan kelas sebelumnya. Penutupan menghadirkan aktivis dan pemikir Islam Indonesia Prof. Musdah Mulia sebagai pemateri. Kegiatan ini mengangkat tema ”Feminisme, Emansipasi, dan Spiritualitas” diikuti oleh peserta dari lintas generasi.
Tema ini diangkat untuk merespon kecenderungan yang selama ini memposisikan feminisme sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan. Melalui tema tersebut, Kelas Feminisme Mazhab Ciputat berupaya membuka ruang refleksi tentang bagaimana perjuangan emansipasi perempuan dapat berakar pada nilai spiritual.
Musdah Mulia mengatakan bahwa feminisme justru memperdalam spiritualitas kita. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa spiritualitas dalam Islam semestinya dipahami sebagai sumber nilai pembebasan, bukan sebagai instrumen ideologis untuk mempertahankan ketimpangan Gender. Ia menyoroti bagaimana tafsir keagamaan yang didominasi oleh perspektif maskulin telah membungkam suara perempuan- pengalaman, peran, dan otoritasnya. Sekaligus mengaburkan pesan etis Islam yang menekankan prinsip keadilan dan kemanusiaan.
”Bagi saya, feminisme justru membawa pada kedalaman spiritual” ujar Musdah.
Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan pertanyaan seputar relasi gender antara laki-laki dan perempuan. Tampak wajah bahagia para peserta setalah mengikuti rangkaian kelas, tema yang di angkat tidak hanya memberikan umpan untuk berpikir kritis juga menyentuh bagian rohani layaknya udara segar di tengah kondisi yang tandus.
Aura Barerotul yang merupakan salah satu peserta kelas menanggapi bahwa dari pemaparan materi tadi, Ia memahami bahwa feminisme sebagai basis epistemologi kritis juga sebagai bentuk perlawanan atas segala bentuk penindasan serta pembebasan manusia dan diharapkan dapat membangun kesadaran sosial yang tidak hanya berhenti sebagai buah pemikiran saja melainkan juga diperlukan militansi untuk itu.
“Relasi spiritualitas antara manusia dan Tuhan , jika benar-benar menghayati maka kita akan sadar bahwa manusia tidak boleh tunduk kepada selain-Nya. Karena sedari awal ajaran Islam berpihak pada keadilan” ujar Aura.
Sebagai tindak lanjut dari proses diskusi yang telah berlangsung, Mila Muzakar sebagai salah satu mentor kelas feminisme menuturkan bahwa kelanjutan program ini akan tetap hadir dalam bentuk kegiatan lain supaya terus memupuk komitmen peserta dalam mengembangkan wacana kelas feminisme.
“Setelah para peserta mendapat pencerahan dari mentor, kami mengajak para peserta dan teman-teman yang baru hadir untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) gerakan apa yang akan mereka bikin aksi nyata di lapangan setelah mengikuti sekolah ini. RTL mereka adalah diwajibkan menulis essay yang nantinya rencana akan di bukukan sebagai sebuah kumpulan essay. Kemudian mereka juga akan membuat konten kampanye yang akan diposting di media sosial, selain itu kami juga berencana membuat kegiatan pada bulan ramadhan nanti yaitu kelas feminisme yang membahas tentang ekofeminisme” Jelas Mila saat penutupan.
Melalui kelas ini, feminisme ditegaskan bukan sebagai tren sesaat, melainkan sebagai praktis berpikir dan bersikap yang menuntut keberanian untuk mengkritisi dan melawan ketidakadilan.
”Dari pemaparan materi tadi semoga dapat membantu melihat fenomena yang terjadi saat ini ketimpangan yang bermunculan dimana-mana, dan kita harus melawan jika menyentuh problem mendasar dalam memanusiakan manusia” tutur Analia Bahar selaku host untuk penutup sesi diskusi kelas Feminisme Mazhab Ciputat.
Reporter: Nia Siti Qoni’ah
Editor: Muhammad Taufiqurrahman Z

