Bertahan adalah Cinta : Catatan Perjalanan Seorang Kader HMI
Oleh: Sri Mulyani Rahim (Kader HMI Komisariat Tarbiyah dan Keguruan Cabang Gowa Raya)
Manusia polos yang baru lahir sebutlah ia sebagai MABA (Mahasiswa Baru). Ia datang ke dunia kampus tanpa peta, tanpa kompas, dan tanpa pengalaman. Segala sesuatu terasa baru dan asing. Apa pun yang dikatakan oleh dosen dan senior seolah menjadi hukum mutlak yang harus ditaati. Larangan dosen dan senior menjadi batas dan nasihat dosen menjadi pegangan utama. Akibatnya, mahasiswa baru sering kali menutup telinga dari pandangan orang lain di luar ruang kelas. Bukan karena sombong, tetapi karena takut salah langkah. Egoisme kecil itu lahir dari ketidaktahuan. Begitu pula dengan organisasi. Kata “Organisasi” tentu tidak asing di telinga seorang MABA (Mahasiswa Baru). Namun yang terasa asing adalah kehidupan di dalamnya akan seperti apa. Saat itu, saya berada pada fase benar-benar bingung dan tidak tahu apa-apa. Saya tahu organisasi itu penting, tetapi saya belum tahu harus melangkah ke mana dan bagaimana.
Sabtu, 7 Desember 2024, saya kembali teringat pada satu organisasi yang bernama HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Saat itu, saya masih bingung antara ingin masuk atau tidak, tetapi saya juga ragu. Saya mendengar kabar dari teman bahwa pengkaderan HMI bukan hanya tiga hari, melainkan tujuh hari. Mendengar itu, saya langsung mengurungkan niat. Apalagi saat itu saya juga harus fokus pada UAS (Ujian Akhir Semester). Ditambah lagi, saya masih teringat perkataan dosen saya “Organisasi itu sebenarnya bagus, tapi kalian belum bisa memasuki organisasi di semester satu karena bisa memengaruhi akademik kalian nantinya”. Akhirnya, saya memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Namun ternyata, hidup seperti itu tidak seindah yang dibayangkan. Dua bulan di perantauan tanpa organisasi terasa seperti hidup di hutan yang sunyi, tanpa arah, tanpa interaksi. Rutinitas yang sama setiap hari perlahan menggerogoti semangat. Saya merasa stres, kosong, dan seperti manusia yang kehilangan daya.
Dua bulan menjalani semester satu tanpa organisasi membuat saya sadar bahwa saya tidak bisa terus berada di titik itu. Kali ini, saya harus berani melawan ketakutan, bahkan melawan perkataan dosen saya sendiri. Bukan untuk membangkang, tetapi untuk mencari versi diri saya yang lebih hidup. Kesempatan itu datang ketika HMI Komisariat Tarbiyah dan Keguruan Cabang Gowa Raya membuka Basic Training gelombang kedua di semester satu. Tanpa berpikir terlalu lama, saya memutuskan untuk ikut LK 1. Saya percaya, kesempatan kedua tidak selalu datang dua kali. Meski tidak ada satu pun teman kelas yang mendaftar, tetapi saya memberanikan diri untuk melangkah sendiri (keluar dari zona nyaman), tanpa tahu apa yang akan saya hadapi ke depan.
Beberapa hari kemudian, tibalah pembukaan HMI Komisariat Tarbiyah dan Keguruan Cabang Gowa Raya. Kegiatan dimulai hari Jumat dan berakhir hari Ahad. Di sanalah saya mulai mengenal dunia baru, mulai dari dunia kaderisasi, diskusi, nilai, dan kebersamaan. Setiap orang tentu mempunyai alasan yang berbeda-beda untuk masuk organisasi. Ada yang karena idealisme, ada pula yang sekadar ikut-ikutan atau fomo. Alasan saya sederhana, saya tertarik di HMI karena saya jatuh cinta pada bendera hijau hitam HMI. Saya juga melihat bagaimana banyak aktivis dan pemimpin bangsa lahir dari rahim HMI. Maka dari situ, tumbuhlah keyakinan saya bahwa organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang pembentukan diri.
Beberapa hari setelah Basic Training, tepatnya pada hari Rabu sampai Kamis, diadakan kegiatan Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) berupa open recruitment lembaga pengembangan profesi HMI Komisariat Tarbiyah dan Keguruan (KOMTAR). Ada empat lembaga sayap di HMI KOMTAR yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSBMI), Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI) dan Lembaga Bahasa Mahasiswa Islam (LBMI). Kegiatan LPP ini dilaksanakan di Patallassang, Kebun Kopi, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Dari ke empat lembaga, saya memilih Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) karena saya menyukai menulis, meski tak semua tahu. Namun di semester satu dan dua keaktifan saya masih minim karena masih merasa malu dan minder terhadap senior-senior HMI.
Memasuki semester tiga, hidup saya berubah. Saya dilantik menjadi Ketua Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam. Di titik inilah saya benar-benar mulai mengenal HMI. Padahal saya masih semester tiga, tapi sudah diberi amanah besar. LAPMI yang saya pimpin bernama LAPMI Cakra singkatan dari Catatan Anak Rakyat. Menjadi ketua di semester tiga bukanlah hal yang mudah. Ini pengalaman pertama saya menjadi seorang ketua di lembaga sayap HMI. Proses di HMI berjalan begitu cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan teman-teman saya yang belum berorganisasi. Jatuh dan bangun menjadi hal yang lumrah. Namun saya bukan tipe yang kuat untuk jatuh berkali-kali. Setiap kali jatuh, saya menangis. Tapi di sanalah peran senior-senior HMI hadir, memotivasi dan meyakinkan saya bahwa proses memang tidak instan. Saya teringat kutipan Bisma Aliyasir yang sering disampaikan senior saya: “Jika proses adalah luka, maka bertahan adalah bentuk cinta yang paling nyata.” Dari situlah saya mulai bersungguh-sungguh.
Mungkin sebagian orang menganggap orangtua kedua diperantauan adalah dosen, tetapi berbeda dengan saya, orang tua kedua saya diperantauan adalah “senior HMI” kenapa saya mengatakan senior HMI adalah orang tua kedua saya karena disaat saya kekurangan disitulah orang orang yang berada di HMI untuk menambahkan, disaat saya kelaparan bukanlah dosen yang mengasih saya makanan, tetapi orang-orang yang ada di HMI, disaat saya butuh materi kapanpun dan dimanapun disanalah ada senior-senior dari HMI yang rela tidak tidur untuk menyuapi kader kadernya ilmu pengetahuan, tiap hari begadang pagi tembus pagi dan tidak ada seseorang termasuk dosen yang rela melakukan hal tersebut kecuali senior HMI.
Disini saya mendapatkan begitu banyak pelajaran bahwa HMI bukan hanya sebagai organisasi biasa tapi dialah yang mengenalkan saya apa arti bertahan, berjuang, berproses belajar dan berkembang. Kenapa “bertahan” terlebih dahulu? karena pada titik terendah hidup hanya meminta satu hal yaitu “tetap ada” yang kedua kenapa berjuang dulu? karena “diam” tak lagi cukup dan hati mulai menolak kalah, yang ketiga kenapa “berproses” dulu? karena agar terbentuk jatuh-bangun dan adaptasi adalah ruang pembentukan diri bahwasanya tidak ada perjuangan yang instan. Yang ke empat kenapa “belajar” dulu? karena dari proses itu seseorang mulai menyadari makna, kesalahan, dan pelajaran. Belajar lahir dari “pengalaman” bukan hanya dari “teori” dan yang terakhir adalah “berkembang” karena jiwa yang bertahan, berjuang, berproses dan belajar pada akhirnya tumbuh menjadi versi diri yang lebih utuh.
Himpunan Mahasiswa Islam bukan hanya organisasi. Ia adalah rumah, tempat untuk tumbuh, tempat untuk berproses, tempat untuk bertukar pikiran serta menjadi ruang pulang bagi nilai.
Saya bersyukur dan bangga menjadi Kader Himpunan Mahasiswa Islam dan saya juga tak lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada seniorku (Muh. Hamsah Br) yang telah memperkenalkan saya HMI. Serta masih banyak senior-senior yang tak bisa saya sebutkan satu persatu namanya yang belum bisa kubalas jasa-jasanya.
SELALU TERPATRI DALAM HATI SANUBARI
YAKIN USAHA SAMPAI

