Di Antara Idealisme dan Realitas Zaman: Refleksi Kader HMI Hari Ini

Oleh: Nova Pebriyani (Kader HMI Komtar Cabang Ciputat)

Menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam bukan sekadar soal identitas organisasi, tetapi tentang proses panjang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil peran di tengah realitas sosial yang terus berubah. Di usia ke-79 tahun, HMI dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana idealisme yang diwariskan masih mampu berdialog dengan tantangan zaman hari ini?

Himpunan Mahasiswa Islam diperkenalkan sebagai ruang pembentukan insan cita, tempat kader ditempa agar memiliki keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan yang seimbang. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak sedikit kader yang mulai mempertanyakan kembali peran dan makna keberadaannya di dalam organisasi. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, HMI berada di persimpangan antara menjaga nilai idealisme dan menghadapi realitas sosial yang semakin kompleks.

Tema khidmat HMI untuk Indonesia menjadi relevan untuk dibicarakan hari ini, bukan sebagai slogan seremonial, tetapi sebagai refleksi kritis atas bagaimana HMI dijalankan oleh kadernya, serta apakah HMI masih menjadi ruang pengabdian atau justru berhenti sebagai rutinitas organisasi yang kehilangan daya dorong perubahan. Sebagai kader, pengalaman ber-HMI sering kali memperlihatkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, HMI menawarkan ruang diskusi, pelatihan intelektual, dan pembentukan karakter. Forum-forum kaderisasi, diskusi keislaman, hingga kajian kebangsaan menjadi ciri khas yang membedakan HMI dari organisasi mahasiswa lainnya. Namun di sisi lain, tidak jarang aktivitas organisasi terjebak pada formalitas, konflik internal, dan orientasi jabatan.

Pengalaman personal sebagai kader memperlihatkan secara nyata jarak antara idealisme dan realitas tersebut. Di jurusan saya, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), minat mahasiswa terhadap HMI tergolong sangat rendah. Bahkan pada angkatan 2024, tidak ada satu pun mahasiswa yang bergabung dengan HMI. Meski demikian, kewajiban organisatoris tetap berjalan. Forum Latihan Kader 1 di tingkat komisariat tetap harus dilaksanakan, dan sebagai kader, saya tetap terlibat sebagai panitia meskipun tidak ada adik tingkat dari jurusan sendiri yang mengikuti. Situasi ini menjadi refleksi bahwa khidmat dalam HMI tidak selalu berjalan seiring dengan antusiasme lingkungan, tetapi sering kali menuntut kesadaran personal untuk tetap bertanggung jawab atas keberlangsungan organisasi.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi partisipasi mahasiswa dalam gerakan sosial dan advokasi publik justru cenderung fluktuatif. Di era digital, keterlibatan mahasiswa lebih banyak berpindah ke ruang daring, seperti media sosial, yang sering kali bersifat reaktif dan sesaat. Hal ini berdampak pada organisasi mahasiswa, termasuk HMI, yang dituntut beradaptasi dengan pola gerakan baru tanpa kehilangan substansi perjuangan.

Tantangan gerakan mahasiswa kontemporer hari ini bukan hanya soal represi atau kebijakan negara, tetapi juga soal konsistensi nilai. Banyak kader yang aktif secara struktural, namun minim refleksi ideologis. Diskusi berjalan, tetapi sering berhenti pada tataran wacana. Aksi dilakukan, namun kadang kehilangan arah keberpihakan. Di sinilah idealisme diuji oleh realitas zaman. Dalam keseharian berorganisasi, saya merasa semangat ber-HMI kerap bersifat musiman. Ada fase ketika forum ramai, diskusi hidup, dan agenda berjalan padat. Namun ada pula masa ketika antusiasme menurun, bahkan sekadar menghadiri kegiatan organisasi terasa berat. Tidak jarang rasa malas muncul, bukan karena menolak nilai HMI, melainkan karena lingkungan sekitar termasuk sesama kader tidak lagi membicarakan HMI sebagai ruang perjuangan, melainkan sekadar sebagai rutinitas yang dijalani seperlunya.

HMI sebagai organisasi kader seharusnya mampu membaca perubahan ini. Sejarah mencatat bahwa HMI pernah mengambil peran penting dalam dinamika kebangsaan, mulai dari masa awal kemerdekaan hingga era reformasi. Namun, romantisme sejarah tidak cukup jika tidak diiringi dengan pembaruan cara berpikir dan bertindak. Khidmat HMI untuk Indonesia harus dimaknai sebagai kemampuan kader untuk hadir dan relevan di tengah persoalan nyata masyarakat.

Pengalaman kader di tingkat komisariat hingga cabang menunjukkan bahwa problem internal organisasi sering kali menguras energi. Konflik kepentingan, polarisasi kelompok, hingga perdebatan simbolik justru lebih dominan dibandingkan upaya menjawab isu-isu strategis seperti kemiskinan, ketimpangan pendidikan, dan krisis moral publik. Padahal, menurut data World Bank, ketimpangan sosial di Indonesia masih menjadi persoalan serius, dengan indeks gini yang menunjukkan jurang antara kelompok masyarakat. Dalam konteks ini, peran intelektual kader HMI menjadi krusial. Intelektual tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan berbicara atau menguasai teori, tetapi keberanian untuk berpihak dan bertindak. HMI memiliki modal besar berupa tradisi diskusi dan kaderisasi berjenjang. Jika tradisi ini diarahkan untuk membaca realitas sosial secara kritis, HMI dapat kembali menjadi ruang lahirnya gagasan perubahan. Era digital seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman semata. Media sosial, platform digital, dan ruang daring bisa menjadi sarana dakwah intelektual dan advokasi sosial. Namun, tantangannya adalah menjaga kedalaman gagasan di tengah budaya instan. Kader HMI perlu menyadari bahwa eksistensi di ruang digital tanpa substansi hanya akan memperlemah posisi organisasi sebagai gerakan intelektual.

Refleksi pengalaman ber-HMI juga memperlihatkan dilema antara kebutuhan pribadi dan pengabdian organisasi. Banyak kader yang harus membagi waktu antara akademik, ekonomi, dan aktivitas organisasi. Pada titik tertentu, saya melihat rasa lelah muncul ketika semangat seolah hanya dijaga oleh diri sendiri. Ada perasaan capek menjadi pihak yang terus berusaha hadir, aktif, dan peduli, sementara lingkungan sekitar tampak semakin apatis. Namun justru pada fase inilah makna menjadi kader diuji. Bertahan bukan lagi soal euforia organisasi, melainkan kesadaran bahwa pilihan untuk tetap berjalan adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai kader.

Di sinilah makna khidmat menemukan bentuknya. Khidmat bukan berarti mengorbankan diri secara membabi buta, tetapi menempatkan organisasi sebagai ruang pembelajaran, pendewasaan, dan pengabdian yang dijalani dengan kesadaran. HMI akan tetap relevan jika kader mampu memaknai organisasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar tangga menuju status sosial. Kritik terhadap internal organisasi perlu disertai dengan kesadaran untuk berkontribusi. Refleksi harus berujung pada aksi, bukan sekadar keluhan. Ke depan, proyeksi masa depan HMI bergantung pada kualitas kadernya. Jika kader mampu menjaga idealisme sambil beradaptasi dengan realitas zaman, HMI dapat terus berkhidmat untuk Indonesia. Namun jika HMI terjebak pada romantisme masa lalu dan konflik internal, maka organisasi ini berisiko kehilangan makna di mata generasi muda. Khidmat HMI untuk Indonesia sejatinya adalah kerja sunyi yang berakar pada nilai tauhid dan keberpihakan sosial. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga nilai dan memberi dampak. Di antara idealisme dan realitas zaman, HMI dituntut untuk terus memilih jalan pengabdian, bukan sekadar bertahan sebagai simbol sejarah.

Postingan Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *