Diduga Hasil Lobi-lobian, Elektabilitas Kepemimpinan Perempuan Kini Mulai Diragukan
Oleh: Nadya Hendriyan Putri
Belum genap 100 hari masa jabatan Amany Burhanudin Umar Lubis sebagai rektor baru UIN Jakarta periode 2019-2023, kini dirinya sedang dirundung banyak kecaman dari mahasiswa tempatnya menjabat. Terlebih, semenjak Mahfud MD angkat bicara pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di salah satu stasiun televisi swasta Tv-One pada Selasa (19/3) sontak membuat publik melebarkan bola matanya.
Mantan Ketua Umum Mahkamah Konstitusi ini membeberkan kecurigaannya mengenai indikasi jual-beli jabatan pada institusi pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag), khususnya UIN Jakarta. Beliau buka suara akan adanya kejanggalan atas dilantiknya Amany Lubis sebagai rektor UIN Jakarta, yang pada saat itu, ternyata ada sosok lain yang meraih skor tertinggi untuk kursi Rektor.
Kini, perempuan paruh baya berdarah Nahdlatul Ulama tersebut gencar dicurigai sebagai salah satu produk lobi-lobian Menag bersama mantan Ketua Umum partai berlambang Ka’bah yang kini menjadi tersangka kasus jual beli jabatan, Romahurmuziy. Tentu ini hal yang logis bisa saja terjadi, terlebih apabila menilik dari latar belakang organisasi yang sama, tidak menutup kemungkinan bahwa isu mengenai ‘Rektor hasil lobi-lobian’ ini bisa jadi benar adanya, ikatan emosional mampu melobi jabatan sekelas dewa apapun, termasuk kursi rektor yang digadang-gadang senilai Rp 5 Miliyar rupiah. Meskipun ini masih bersifat dugaan, tetapi kini Amany sudah dirundung banyak kecaman yang membuat namanya melayang pada spanduk-spanduk demonstrasi.
Hal lain yang membuat mahasiswa merasa ternodai hak demokrasinya ialah dengan dikeluarkannya kebijakan baru dalam Pemilihan Umum Raya (Pemira) yaitu dengan sistem E-Votting yang belum jelas regulasinya, bahkan tersosialisasikan dengan baik dan tanpa uji coba yang baik dan benar. Sistem yang dicanangkan oleh rektor perempuan pertama di UIN Jakarta ini justru malah membuat pesta demokrasi menjadi amburadul. Jaminan yang dijanjikan Amany bahwa sistem E-Votting ini akan berjalan jujur dan adil nyatanya sangat berbanding terbalik. Banyak kejanggalan yang terjadi, baik dalam proses pemilihan, penghitungan suara, hingga hasil ketetapan akhir Pemira. Maka wajar saja apabila mahasiswa merasa bahwa ada konspirasi di balik ini semua.
Aksi demonstrasi yang gencar dilakukan oleh Mahasiswa UIN Jakarta dalam beberapa hari terakhir ternyata disalahpahami oleh segelintir mahasiswa yang merasa bahwa aksi ini merupakan wujud kekecewaan akan kekalahan dalam Pemira.
Beberapa mahasiswa melakukan aksi demonstrasi tandingan, dengan tagar #UinJakartaBaikBaikSaja, tentu ini kekeliruan yang cukup membuat kita mengerutkan dahi, bukan menang atau kalah dalam Pemira yang menjadi alasan para mahasiswa memutuskan untuk menjawantahkan kekecewaan mereka dengan aksi demonstrasi di depan kantor Rektorat UIN Jakarta pada Rabu (20/3), melainkan ini merupakan wujud tanggung jawab moral anak bangsa, khususnya mahasiswa ketika kampusnya tercinta disinyalir menjadi tempat praktik jual beli jabatan, ditambah lagi ini merupakan puncak kekecewaan akan semua kebijakan Amany yang ternyata sama sekali tidak lebih baik dari kebijakan-kebijakan sebelumnya, tentu sudah seyogyanya sebagai calon generasi penerus bangsa harus memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan anti kebathilan.
Diluar kebijakan E-Votting dalam Pemira, contoh lainnya adalah diberlakukannya batas kegiatan malam hingga pukul 21:00 WIB, kebijakan ini membuat resah mahasiswa yang biasa merubah lobi kampus menjadi lahan diskusi yang sangat kental akan unsur akademisi. Disusul dengan penebangan pohon di halaman kampus UIN Jakarta yang sedang gencar dilakukan, kini menjadi boomerang kepada Amany yang dinilai memberantas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di UIN Jakarta.
Ini sungguh amatir apabila menilik ke beberapa bulan sebelumnya, ketika Amany baru saja dilantik menjadi rektor UIN Jakarta pada Senin (7/1) dan dirinya dibangga-banggakan sebagai rektor perempuan pertama. Terlebih ia memiliki track record akademisi yang cukup membanggakan, serta aktif dalam forum-forum internasional. Dilantiknya Amany sontak meningkatkan elektabilitas perempuan dalam kepemimpinan yang diakui oleh berbagai kalangan. Pada saat itu, semua percaya bahwa ini waktunya perempuan berdaya dan bisa memimpin lembaga pendidikan sekelas universitas.
Semuamengakui dan terbuai dengan sosok yang namanya tiba-tiba diberi banyak ucapana selamat ini. Namun, kini pujian yang ia terima harus tergadaikan dalam beberapa hari terakhir, di mana kini ia dipertanyakan mengenai kapasitas dan legitimasinya sebagai rektor baru yang belum bisa dinilai etos kerjanya, mengingat bahkan belum genap 100 hari ditambah dugaan bahwa janatan rektor yang ia emban saat ini merupakan hasil lobi-lobian.
Terlepas dari ada atau tidaknya indikasi jual beli jabatan dalam pemilihan rektor UIN, khususnya UIN Jakarta, kini secara tidak sadar elektabilitas kepemimpinan perempuan tengah dipertanyakan, karena sosok perempuan yang awalnya dipercaya untuk menahkodai UIN Jakarta dengan impian menjadi World Class University, kini tengah mengecewakan banyak pihak dengan berbagai kebijakan yang pada akhirnya tidak membawa pergerakan mahasiswa ke arah yang lebih baik. Justru, kini sebagian mahasiswa seolah-olah terbius karena kemenangan akan jabatan pada kontestasi Pemira yang membuatnya secara tidak sadar kehilangan moralitasnya sebagai anak bangsa dan mahasiswa.
Dimana demokrasi kampus yang kini diperkosa dengan sistem E-Votting yang ternyata tidak memiliki prinsip jujur dan adil? di mana waktu-waktu produktif mahasiswa ketika malam datang yang kini sesak oleh aturan jam malam? di mana ruang terbuka hijau di kampus yang memiliki cuaca luar biasa panas? di mana bukti nyata elektabilitas kepemimpinan perempuan?
Pertanyaan di atas mungkin pertanyaan yang bisa dijawab oleh siapapun, tetapi adakah yang bisa menjelaskan mau di bawa ke mana kampus oleh rektor perempuan pertama di UIN dengan segudang prestasi ini? Waallahu’alam hanya beliau yang mampu menjawabnya.
Apakah ibu Amany adalah rektor titipan atau tidak, semoga kejadian ini tidak membuat menurunnya elektabilitas perempuan sebagai pemimpin. Tetaplah bertabayun, tanpa menggadaikan moralitas kita sebagai mahasiswa. Penting untuk diingat, kita mahasiswa bukan kader partai politik, jabatan tidak berarti apa-apa. Jangan gadaikan idealisme dan moralitas kita sebagai mahasiswa untuk upah jabatan intra kampus yang sama sekali tidak berarti apa-apa.
Amankan yang harus diamankan, ibu Amany semoga mendapat kepastian akan legitimasinya sebagai rektor UIN Jakarta, haruskah dilanjutkan atau justru mari kita selesaikan?
*Penulis adalah Mahasiswi Jurnalistik, UIN Jakarta.

