Problematika UKT Mahasiswa UMJ: “UKT Melejit, Mahasiswa Menjerit”
Oleh: Mahasiswi yang meminta keadilan dan haknya*
Isu yang saya bawakan hari ini merupakan isu yang tidak pernah ada ujungnya di kalangan mahasiswa, yaitu mengenai problematika Uang Kuliah Tunggal (UKT). Hari ini, ada banyak mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta (FEB UMJ) yang tidak mendapatkan dispensasi untuk mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS & UAS) karena terkendala dalam pembayaran UKT yang memunculkan diskusi publik tentang akses pendidikan dan fleksibilitas kebijakan kampus. Permasalahan administratif ini dianggap ribet dan mempersulit mahasiswa, walaupun setiap perguruan tinggi memiliki aturan administratif masing-masing.
“dimana letak ruang empati para pimpinan, dimana hak mahasiswa untuk di beri keringanan dan bagaimana solusi yang tepat dalam problematika ini?”.
Permasalahan ini timbul di beberapa fakultas Universitas Muhammadiyah Jakarta diantaranya Fakultas ekonomi dan Bisnis. Dispensasi UTS & UAS biasanya diberikan kepada mahasiswa yang sedang menghadapi kendala finansial dengan syarat tertentu, seperti menunjukkan bukti komunikasi dengan bagian keuangan atau rencana pelunasan yang jelas. Namun, sejumlah mahasiswa yang merasa terdampak, seperti mahasiswa yang hanya telat bayar secara ketentuan yang di informasikan pihak kampus dari media sosial, mereka tidak mendapat ruang dispensasi ini menjadi sangat terbatas sehingga sebagian dari mereka berisiko tertinggal dalam evaluasi akademik, hal ini yang menyebabkan banyak kekesalan dan keresahan dari mahasiswa FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Dalam kacamata mahasiswa FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta, pendidikan seharusnya tidak hanya diatur oleh regulasi administratif, namun juga diberi ruang dialog serta kebijakan transisi yang manusiawi. Karna yang bisa mengakibatkan mahasiswa mengulang mata kuliah adalah jika dosen terkait tidak ingin mengadakan ujian susulan. Maka dari itu kenapa harus di persulit untuk mengikuti kebijakan pimpinan yang membuat beberapa mahasiswa sulit untuk mengikuti aturan tersebut? Banyak yang berpendapat bahwa kendala pembayaran sering kali bukan karena kelalaian, tetapi yang pasti banyaknya akibat situasi ekonomi keluarga yang tak terduga—terutama di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Jangan hanya melihat dari masa lalu mahasiswa yang mungkin membuat pimpinan memberi kebijakan sangat ketat, jangan di sama ratakan di masa lalu pun kemungkinan kebanyakan faktor fluktuatif.

Saya yang berorganisasi di internal BEM FEB menjadi tidak semangat untuk meningkatkan kualitas fakultas sebagai tulangpunggung mahasiswa FEB. padahal BEM dan beberapa organisasi pernah mengadakan audiensi untuk menyuarakan aspirasi dan kendala mahasiswa FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta, tetapi apakah pernah mencapai goals tersebut? Bahkan solusi pun tidak ada hingga saat ini. Mau sampai kapan FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta tetap seperti ini? Melihat mahasiswa yang tidak pernah mendapat hak keringanan sedikit pun, Mahasiswa selalu menjerit jerit dengan keadaan seperti ini.
Lalu, bagaimana solusinya?
Di sisi lain, kampus tentu memiliki tanggung jawab menjaga tertib administrasi dan keberlanjutan operasional. Namun, di sinilah tantangan muncul; bagaimana menemukan titik tengah antara penegakan aturan dan fleksibilitas sosial? Opini yang berkembang menyarankan agar kampus mempertimbangkan skema-solusi yang lebih adaptif, seperti:
- Dispensasi bersyarat
- Penjadwalan ulang UTS & UAS
- Perbaikan sistem pembayaran UKT
- Pertemuan terbuka antara mahasiswa dan pihak biro keuangan untuk mencari jalan tengah.
Kebijakan yang lebih komunikatif dan terbuka ini saya yakini dapat meredam keresahan mahasiswa serta memperkuat kepercayaan antara civitas akademika dan pihak institusi.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar urusan nilai dan biaya. Ia menyangkut masa depan generasi muda yang berjuang di tengah dinamika hidup yang tidak mudah. Dengan dialog yang sehat dan empati kebijakan, kampus dapat menjadi ruang belajar bukan tempat yang membuat hilangnya rasa semangat mahasiswa untuk mengejar masa depan.
**Balqis Islamiyati (Mahasiswi FEB UMJ)
Editor: Muhammad Taufiqurrahman Z

