Telisik Daya Jual Sebagai Kader Himpunan Mahasiswa Islam
Oleh: Rahmat Setiawan (Kader HMI Korkom Walisongo Cabang Semarang)
“Di manapun kau berkiprah tak ada masalah. Yang penting adalah semangat KEISLAMAN dan KEINDONESIAAN itu yang kau harus pegang terus,” ucap Prof. Lafran Pane.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa ekstra kampus tertua yang didirikan pada tanggal 5 Februari 1947 bertepatan dengan tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, di Yogyakarta oleh seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) bernama Lafran Pane. Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam sudah seharusnya menyelisik daya jual sebagai wujud momentum menuju Dies Natalis HMI Ke-79.
Persaingan pencarian kader dengan organisasi ekstra lainnya seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan organisasi ekstra lainnya menjadi bahan refleksi yang seharusnya dikaji dalam laboratorium HMI. Berdasarkan pengalaman empiris penulis Mahasiswa Baru (Maba) lebih memilih untuk bekerja paruh waktu (part-time), magang, atau freelance dibandingkan aktif di organisasi kampus.
Kuliah Nyambi Kerja atau Kuliah Nyambi Organisasi?
Kuliah nyambi kerja atau organisasi memiliki nilai plus dan minusnya masing-masing. Tergantung bagaimana seseorang merancang impiannya ketika memutuskan untuk memilih kuliah di perguruan tinggi. Namun, ada banyak sekali faktor utama mengapa para Maba lebih memilih untuk kerja ketimbang organisasi. Walaupun jika bicara hasil kerjalah menjadi tujuan jangka pendek karena mendapatkan fulus atau uang. Berbeda dengan Maba yang memilih kuliah nyambi organisasi ia tergolong orang yang menyukai proses, karena dalam berorganisasi secara tidak langsung Maba sedang menabung soft skill untuk dirinya sendiri.
Jika berorganisasi pun mahasiswa sekarang lebih memilih organisasi internal kampus seperti minat-bakat ketimbang organisasi ekstra kampus. Berdasarkan sumber dari Instagram @pemuda.center data dari beberapa survei kampus menunjukkan tren yang jelas: mahasiswa lebih tertarik pada organisasi spesifik, seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) minat-bakat, klub profesional, dan organisasi berbasis program studi. Mayoritas mahasiswa aktif lebih memilih UKM ketimbang organisasi ekstra kampus dengan cangkupan yang terlalu luas. Hal ini menunjukkan bukti adanya pergeseran orientasi mahasiswa era sekarang.
Terlebih jika mengacu kepada orientasi pengalaman kerja banyak mahasiswa yang berpikir realistis dan fokus untuk membangun Curriculum Vitae (CV) sejak semester awal. Kerja part-time terkesan dianggap memberikan dampak langsung terhadap peningkatan hard-skill mahasiswa yang dibutuhkan industri, dibandingkan mengikuti organisasi yang sering dianggap hanya mengembangkan soft skill. Kedua ada Kebutuhan Finansial dan Kemandirian. Banyak Maba yang berkuliah sembari kerja karena dengan bekerja ia menghasilkan uang tambahan untuk biaya kuliah, buku, atau uang saku. Sedangkan organisasi hanya membuang waktu belum lagi isi dompet mengharuskan untuk keluar seperti agenda rapat. Ketiga ada Fokus pada Akademik. Mahasiswa seperti ini biasanya punya ambisi mendapatkan IPK 4, padahal jika ditelisik ulang IPK hanyalah bualan angka belaka.
Namun, meskipun minat organisasi menurun di kalangan para Maba setiap tahunnya, survei membuktikan bahwa masih ada 73,8% mahasiswa masih menilai organisasi itu penting, namun mereka lebih selektif dalam memilih organisasi yang ia ingin masuki.
Kader HMI adalah Rahim Pendiri Organisasi
Secara etimologi, kader berasal dari bahasa Yunani yaitu cadre yang artinya adalah bingkai, sedangkan secara terminologi kader berarti orang atau kumpulan orang yang dibina dalam sebuah organisasi. Seorang kader HMI ditempa pertama kalinya di rumah pertama yang memiliki julukan mata air perkaderan yakni KOMISARIAT.
Salah satu pendiri PMII, Mahbub Junaidi, dulunya pernah menjadi bagian dari kader Hijau Hitam ini. Di komisariat para kader diberikan wawasan independensi kader baik secara etis maupun organisatoris. Tempaan di komisariat yang dibantu sama pengurus komisariat sudah menjadi tanggung jawab seorang pengurus untuk menempa kader komisariatnya demi membentuk kader HMI yang memiliki loyalitas, kapabilitas, dan integritas.
Bukan hanya pendiri PMII, salah satu pendiri IMM, Amin Aris dulu pernah menjadi salah satu kader HMI pada masanya. Dalam HMI itu terdapat kaderisasi yang merupakan suatu proses atau tahapan pembinaan pendewasaaan diri dan peningkatan kualitas individu dalam suatu organisasi yang akan memegang peran penting dalam memegang estafet yang akan melanjutkan kepengurusan selanjutnya demi mewujudkan tujuan organisasi.
Tak berhenti menjadi seorang kader pencipta atau pendiri, para kader yang menjadi tokoh yang lahir dari rahim hijau hitam ini sudah berkiprah di lini manapun. Contohnya ada Kanda Mahfud MD yang pernah menjabat sebagai Menko Polhukam, Anis Baswedan, Bahlil Lahadalia, Ferry Irwandi, dan Rian Fahardi dan masih banyak lagi tokoh yang lahir dari rahim Himpunan Mahasiswa Islam.
Pengamalan Nilai Lima Kualitas Insan Cita
Sebelum memasuki lima kualitas insan cita, para kader HMI dituntut untuk hafal dan paham tujuan HMI. “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt.”
Lima kualitas insan cita inilah merupakan penjabaran secara rinci dan mendalam. Pengamalan nilai lima kualitas insan cita inilah yang menjadi daya jual HMI kepada para Maba yang baru masuk ke perguruan tinggi negeri. Ini bisa terlihat dengan cara menempa kader sebagai insan akademis yang mengisi otaknya dengan diajak membaca buku serta diskusi di setiap minggunya. Lalu dilepas untuk bertarung secara aktif di ruang kelas bersama dosen dan teman-teman kelasnya. Menjual almamater sebagai identitas organisasi sangatlah penting namun jika kualitas seorang kader yang ditunjukkan secara fakta itu akan sangat penting untuk menggaet perhatian para Maba yang baru masuk ke PTN atau PTKIN.
Lima kualitas insan cita yang terdiri dari yang pertama yakni, Insan Akademis. Kedua, Insan Pencipta. Ketiga, Insan Pengabdi. Keempat, Insan bernafaskan Islam. Kelima, Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah Swt. dengan mengamalkan lima karakter kualitas insan cita ini menjadi pegangan daya jual sebagai kader HMI. Mengutip kata Tan Malaka: “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana. Maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”
Karya dan Cita-cita Sebagai Daya Jual Terakhir
Di era teknologi yang semakin pesat terkadang seorang kader harus makin kreatif dan inovatif menggali potensi yang ada di dalam dirinya sendiri. Penulis senang jika melihat kader yang unik, unik di sini dalam artian memiliki potensi masing-masing. Ada kader yang suka dalam bidang menulis, bidang publik speaking, bidang desain grafis, dll. Namun, banyak dari kader Himpunan Mahasiswa Islam menjadi politisi.
Orang yang hidupnya mendapatkan hasil dari karya yang dibuat itu akan ada suatu kebanggan tersendiri. Terlebih jika ada seorang kader yang memiliki usaha lalu ditawarkan usaha tersebut kepada senior, maka senior akan merasa senang secara tidak langsung. Fenomena silahturaHMI kepada senior dengan hanya membawakan proposal kegiatan penulis menilai kurang etis, walaupun senior tersebut mendapatkan pekerjaan dari jalan himpunan. Tapi akan lebih elegan semisal kader silahturaHMI dengan membawa sebuah maha karya yang ia buat sendiri.
Cita-cita seorang kader yang memiliki impian tinggi merupakan salah satu bentuk daya jual sebagai kader HMI. Penulis baru saja mendapatkan konsep ini setelah nongkrong bersama salah satu Kabid PTKP HMI Badko Jateng DIY. Dalam diskusinya penulis memantik “sebenarnya apa sih yang menjadi daya jual HMI di era sekarang, Bang?”. Lalu dijawab “Cita-cita menjadi seorang pemimpin dan ketahanan kader selama masih berproses”
Di HMI menjadi seorang Ketua Umum (Ketum) itu bisa berasal dari latar belakang keluarga mana saja. Baik dari latar belakang keluarga petani, tukang ayam, sopir angkot, atau apapun itu di HMI tidak memandang itu. Semua boleh menjadi seorang pemimpin dengan catatan membawa ambisi dan visi jangka panjang untuk perkaderan.
Penulis merekomendasikan kepada semua kader Himpunan Mahasiswa Islam yang kini sedang berproses di rumahnya masing-masing agar terus mengamalkan lima kualitas insan cita. Menelisik daya jual sebagai bahan refleksi menuju Dies Natalis Ke-79 berarti peduli atas perkaderan. Tanpa keberanian untuk menyuarakan wacana yang ada dalam pikiran, maka sebuah perubahan akan minim tercipta. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

